Suara Ahlus Sunnah Melawan Sekularisme

Suara Ahlus Sunnah wal Jama'ah melawan Sekularisme, Liberalisme, Plularisme, Murji'ah dan Khawarij

Akidah Negara Islam

Plsy Store Street Fight

Aqidah Daulah Islamiyyah

Akidah Negara Islam

Oleh Syaikh Abu 'Umar Al Hussaini Al Quraisyi Al Baghdadi rahimahullah

Sungguh manusia telah banyak membuat tuduhan yang sangat dusta yang tidak berdasar perihal akidah kami. Mereka menuduh bahwa kami mengafirkan semua kaum muslimin secara umum dan mereka menuduh bahwa kami menghalalkan darah-darah mereka dan harta-harta mereka dan mereka menuduh bahwa kami memaksa manusia untuk bergabung ke dalam negara kami dengan pedang (kekerasan).
Atas dasar itu, maka inilah penjelasan kami untuk membantah tuduhan-tuduhan yang sangat dusta itu hingga tidak tersisa lagi bagi orang-orang yang melakukan kedustaan untuk beralasan atau orang-orang yang gemar lagi condong kepada syubhat-syubhat.

Pertama, kami meyakini dan kami mewajibkan penghancuran dan pelenyapan setiap bentuk-bentuk kesyirikan dan pengharaman sarana-sarana yang menghantarkan kepada kesyirikan.
Imam Muslim telah meriwayatkan dalam shahih-nya dari Abul Hayyaj Al Assadi, ia telah berkata, telah berkata kepadaku Ali bin Abu Thalib radhiyallahu‘anhu, ingatlah bahwa aku akan mengutus engkau sebagaimana Rasululllah shalallahu 'alaihi wa salam telah mengutusku, bahwa, "Janganlah kamu membiarkan patung, kecuali kamu menghancurkannya dan jangan kamu membiarkan kuburan yang disembah lagi dimuliakan melainkan kamu memusnahkannya."

Kedua, Rafidhah adalah kelompok syirik dan murtad, di samping itu mereka adalah kelompok yang menentang penerapan syariat dari syariat-syariat islam yang zhahir.

Ketiga, kami meyakini kafir dan murtadnya para tukang sihir, kewajiban untuk membunuhnya, dan tidak diterima taubat mereka dalam hukum-hukum di dunia setelah ada kemampuan atasnya.
Umar bin Khaththab radhiyallahu‘anhu telah berkata, "Hukuman bagi tukang sihir adalah dengan memenggal leher mereka dengan pedang."

Keempat, kami tidak sekali-kali mengafirkan seorang muslim pun yang salat menghadap kiblat, seperti kiblat kami lantaran melakukan dosa-dosa, seperti zina, meminum khamr, dan mencuri, selama tidak menghalalkannya.
Keyakinan kami dalam iman adalah pertengahan, tawasuth antara khawarij lagi ghuluw dan antara ahlu irja’ lagi mufrithin (orang-orang yang teledor atau meremeh-remehkan). Barang siapa yang mengucapkan syahadatain, menampakkan kepada kami keislamannya, dan tidak sekali-kali melakukan satu pun pembatal dari pembatal-pembatal keislaman, maka kami memperlakukannya sebagaimana memperlakukan kaum muslimin. Kami menyerahkan urusan batinnya kepada Allah Ta'ala.
Bahwasannya kekafiran itu ada dua, yaitu kufur akbar dan kufur ashgar dan bahwasannya kekafiran bisa disebabkan oleh keyakinanya, ucapannya, atau perbuatannya, tetapi takfir seseorang secara personal dari mereka dan hukum kekalnya di neraka tergantung dengan terpenuhinya syarat-syarat dan tidak adanya penghalang-penghalang takfir.

Kelima, kami meyakini wajibnya berhukum kepada syariat Allah Ta'ala dari perkara-perkara yang diadukan kepada pengadilan syar’iyyah di Negara Islam, dan pembahasan tentangnya dalam hal-hal yang tidak ada ilmu tentangnya. Sementara keberadaan berhukum kepada tagut yang berdasarkan undang-undang buatan, undang-undang kesukuan, dan sejenisnya, adalah bagian dari pembatal-pembatal keislaman.
Allah Ta'ala berfirman, “Barang siapa yang tidak berhukum dengan apa yang diturunkan oleh Allah, maka mereka adalah orang-orang yang kafir.” (QS Al Maidah: 44)

Keenam, kami meyakini dan wajibnya merendahkan diri kepada Nabi Muhammad shalallahu 'alaihi wa salam dan haramnya mendahului beliau di hadapannya. Haramnya mengafirkan dan memurtadkan orang yang telah mendapatkan derajat dan kedudukan yang mulia atau kedudukan Ahlul Bait Rasulullah shalallahu 'alaihi wa salam yang suci, juga para sahabat-sahabat beliau yang baik dari para khalifah empat yang telah mendapat petunjuk, dan termasuk para sahabat-sahabat beliau yang awal.
Allah Ta'ala berfirman, "Sesungguhnya Kami mengutus kamu sebagai saksi, pembawa berita gembira, dan pemberi peringatan supaya kamu sekalian beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, menguatkan agama-Nya, membesarkan-Nya, dan bertasbih kepada-Nya di waktu pagi dan petang”. (QS Al Fath: 8-9)
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda kepada para sahabatnya dengan membacakan firman Allah Ta’ala, "Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka rukuk dan sujud mencari karunia Allah dan keridaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya, maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal kebajikan di antara mereka ampunan dan pahala yang besar." (QS Al Fath: 29)

Ketujuh, kami meyakini bahwa sekulerisme dengan berbagai bentuk, benderanya, dan berbagai jenis ajarannya seperti nasionalisme, paham kebangsaan, sosialisme, dan komunisme, semuanya merupakan kekufuran yang nyata, membatalkan keislaman, dan mengeluarkan pelakunya dari millah. Kami meyakini kafir dan murtadnya setiap orang yang bergabung dengan berpartisipasi dalam aktivitas perpolitikan secara mutlak, seperti Partai Ad Dailami, Al Hasyimi, dan semisalnya karena perbuatan-perbuatan tersebut bagian dari bentuk penggusuran terhadap syariat Allah Ta'ala dan bentuk memberikan kekuasaan (loyalitas) kepada musuh-musuh Allah Ta’ala, baik kaum Shalibiyyin, Rafidhah, dan seluruh orang-orang yang murtad di atas hamba-hamba Allah, yaitu kaum mukminin.
Allah Ta’ala berfirman tentang keadaan orang yang menyepakati penggantian satu masalah saja yang merupakan bagian dari syariat Allah Ta’ala, maka sesungguhnya setan-setan benar-benar akan memberikan wahyu kepada penolong-penolong mereka, seraya membantah kalian, jika kalian mematuhi mereka (meski dalam satu perkara saja), maka sesungguhnya kalian benar-benar menjadi orang-orang musyrik.
Sebagaimana kami meyakini bahwa manhaj Partai Al Islami (nama sebuah partai di 'Iraq) adalah manhaj kekufuran dan kemurtaddan, tidak ada perbedaan dalam manhaj-nya dan perilakunya dibandingkan dengan semua manhaj-manhaj kekufuran dan kemurtaddan, seperti partainya Ja’fari, partainya ‘Alawi, dan para tokoh-tokoh partai mereka. Semuanya adalah orang-orang murtad, tidak ada perbedaan dalam pandangan kami antara para pejabat yang berada di pemerintahan atau berada di cabang-cabang partai. Namun, kami sekali-kali tidak berpandangan kafirnya secara umum orang yang masuk ke dalam partai tersebut, selama belum tegak atas mereka hujjah syar’iyyah.

Kedelapan, kami meyakini kafir dan murtadnya orang yang membela para penguasa yang kafir dan murtad dengan satu jenis dari jenis-jenis pembelaan atau pertolongan, seperti membela dengan pakaian, makanan, pengobatan, dan semisalnya dari sesuatu yang dapat menguatkan mereka, maka dia dengan perbuatan tersebut menjadi dalil bagi kami bolehnya ditumpahkan darahnya.

Kesembilan, kami meyakini bahwa ibadah jihad di jalan Allah adalah kewajiban yang membebani setiap pribadi muslim sejak runtuhnya kekhalifahan di Andalusia dalam rangka membebaskan negeri-negeri kaum muslimin. Jihad itu harus tetap ditunaikan bersama pemimpin yang baik maupun pemimpin yang fajir. Dosa yang paling besar setelah dosa kekafiran kepada Allah Ta'ala, yaitu menolak atau melarang dari jihad di jalan Allah pada saat jihad diwajibkan pada setiap pribadi muslim.
Imam Ibnu Hazm rahimahullah telah berkata, "Tidak ada satu dosa pun setelah kekafiran yang lebih besar dosanya dari dosa orang yang melarang menjihadi orang-orang kafir yang mana hal itu diperintahkan oleh Islam, yaitu berupa pembelengguan kaum muslimin dari menjihadi orang-orang kafir dengan alasan masih adanya kefasikan pribadi dari seorang muslim, padahal tidak dianggap (menjadi penghalang jihad) dengan sekadar adanya kefasikan."

Kesepuluh, kami meyakini bahwa negeri-negeri bila yang berlaku di dalamnya adalah syiar-syiar kufur dan yang mendominasi di dalamnya adalah hukum-hukum kufur, bukan hukum-hukum Islam, maka negeri seperti ini disebut darul kufr, akan tetapi kami tidak mengafirkan semua penduduk yang mendiami negeri itu. Karena hukum-hukum yang berlaku di seluruh negeri-negeri Islam hari ini adalah hukum-hukum tagut dan syariat kufurnya, maka sesungguhnya kami meyakini kafir dan murtadnya seluruh pemerintah tipe ini dan bala tentaranya. Memerangi mereka hukumnya lebih wajib dari memerangi pemerintah salibis. Karena itu wajib memberikan peringatan bahwasannya kami akan memerangi kekuatan-kekuatan yang melakukan penyerangan terhadap Negara Islam di 'Iraq, meskipun mereka menamai diri mereka dengan nama-nama 'Arabi atau Islami.
Kami menasihati mereka dan menghati-hatikan mereka agar mereka tidak akan menjadikan kibas sebagai tebusan bagi para penguasa, seperti layaknya proposal yang diajukan dalam rangka mengurai krisis penguasa salibis di 'Iraq.

Kesebelas, kami meyakini dan wajibnya memerangi polisi dan tentara pemerintahan-pemerintahan tagut, pemerintahan-pemerintah murtad, dan apa yang telah mereka dirikan berupa perusahan-perusahaan, seperti perusahaan minyak dan selainnya. Kami meyakini wajibnya menghancurkan dan melenyapkan lembaga-lembaga dan yayasan-yayasan yang telah jelas bagi kami bahwa para tagut akan mengambilnya menjadi sarana bagi stabilisasi kekuasaan mereka.

Keduabelas, kami meyakini bahwa kelompok-kelompok ahli kitab dan selain mereka, dari golongan shabi'in dan semisal mereka yang berada di dalam wilayah Negara Islam hari ini adalah ahlul harbi dan tidak ada dzimmah bagi mereka karena mereka telah membatalkan perjanjian yang telah mereka sepakati. Karena itu jika mereka menginginkan keamanan, maka wajib bagi mereka membuat perjanjian yang baru kepada Negara Islam dan menyepakati syarat-syarat tertentu yang pasti kapan berakhirnya.

Ketigabelas, kami meyakini bahwa para anggota jemaah-jemaah jihad yang beramal di berbagai front peperangan adalah saudara-saudara kami di dalam agama. Kami sekali-kali tidak menghukumi mereka kafir dan tidak pula fajir, kecuali bila mereka terjatuh ke dalam kemaksiatan karena penyimpangan mereka dari kewajiban agama zaman ini karena mereka dihitung masih berkumpul dibawah satu bendera (bendera La Ilaha Illallah).

Keempatbelas, setiap jemaah atau personal yang mengikatkan diri bersama para penguasa yang memerangi, maka sesungguhnya itu bentuk ketidak-iltizaman sama sekali terhadap kami, Negara Islam. Bahkan hal itu adalah kebatilan dan tertolak. Karena itu wajib berhati-hati terhadap para penguasa dalam rangka membuat perjanjian-perjanjian tanpa izin dari Negara Islam.

Kelimabelas, kami meyakini dan wajibnya menyayangi dan berendah diri terhadap para ulama ‘amilin yang shadiqiin, dan membuang apa yang muncul dari mereka berupa cela, kecacatan, dan menelanjangi orang-orang yang berjalan dalam rangka mensukseskan program-program tagut, atau ber-mudahanah dengan sesuatu yang masih bagian dari agama Allah Ta'ala.

Keenambelas, kami memahami bagi siapa yang mendahului kami dalam berangkat ke medan jihad, berupa hak-haknya dan kedudukannya yang mulia, dan kami menanggung dengan baik (berupa penjagaan dan pelayanan yang mencukupi) kepada keluarga mujahidin dan hartanya.

Ketujuhbelas, kami meyakini wajibnya melepaskan tawanan dan orang yang terbelenggu dari kaum muslimin dari tangan orang-orang kafir, dengan perang atau dengan tebusan.
Rasulullah shalallahu 'alaihi wa salam bersabda, "Bebaskanlah oleh kalian para tawanan", sebagaimana kami meyakini wajibnya mencukupi (melayani dengan baik) tawanan yang berasal dari orang-orang kafir dan juga tawanan dari para syuhada.
Rasulullah shalallahu 'alaihi wa salam bersabda, "Barang siapa yang mempersiapkan perbekalan orang yang berjihad, maka ia mendapatkan pahala seperti orang yang berjihad. Dan barang siapa yang menanggung keluarga orang yang berperang (sampai tingkat mencukupi), maka ia mendapat pahala seperti orang yang berperang."

Kedelapanbelas, kami meyakini wajibnya memberikan taklim atau pengajaran kepada umat tentang urusan agama mereka dan bila mereka telah mendapatkan sebagiannya, maka itu adalah sebuah keberuntungan di dunia dan akhirat. Kami mewajibkan belajar sebagian ilmu duniawi dimana umat menghajatkan dan memerlukannya. Apa yang selain itu maka itu dibolehkan, selama tidak keluar dari kaidah-kaidah syar’i yang lurus.

Kesembilanbelas, kami meyakini haramnya setiap sesuatu yang menghantarkan kepada perbuatan yang keji dan hal-hal menjerumuskan kedalamnya, seperti antena TV Satelit. Kami mewajibkan bagi para wanita dengan kewajiban yang syar’i, yaitu untuk menutup wajahnya (bercadar) dan menjauhkan diri dari busana tanpa hijab syar'i, juga kami mewajibkan bagi para wanita agar menjaukan diri dari perbuatan ikhtilath, campur baur laki-laki dan perempuan yang bukan mahram dan agar mereka juga melazimi penjagaan kehormatan dan kesucian diri.
Allah Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat. Dan Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS An Nur: 19)

Dan terakhir dari seruan kami, bahwa segala puji hanya milik Allah, Tuhan Semesta Alam, dan Allah Maha Menguasai Segala Urusan-Nya, akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.

Ditulis ulang oleh Muhammad bin Yusuf
Penerjemah: Ustadz Abu Yusuf Al Indunisi
Editor: Muhammad bin Yusuf
Sumber: JustPaste.It

Comments

  • No Comment Yet
Please login first for post a comment
Please switch off your AdBlock and refresh this page :)