FE77 Edisi 4: Bumi Datar, Nun, dan Bahaam

Assalamu'alaikum Wr. Wb.



FE77 E4 copy; Abu Hanifah al-Buyalali



Halo. Lama tak jumpa.

Kembali lagi kita bertemu.

Sebelumnya, saya minta maaf ya. Saya sempat janjimya FE77 E4-nya pada akhir tahun 2016 atau awal 2017. Karena masalah blog builder, ya sudah.

Oke. Mari kita mulai.

FLATEARTH77 Episode 4: Bumi Datar, Nun, dan Bahaam

(Oleh Abu Hurairah al-Jawi asy-Syafi'i)



Oke. Nomor 1 sudah dibantah di Edisi 2. Nomor 2 sudah dibantah oleh Flat Earth 101 di YouTube. Sekarang kita masih belum fokus kembali ke yang 11 Argumen Modern Bumi Bulat atas nama agama, namun saya akan ajak Anda berpetualang.



”Nun, demi kalam dan apa yang mereka tulis,”

(QS. 68:1)



"Sampaikan dariku sekalipun 1 ayat dan ceritakanlah dari Bani Isra'il dan itu tidak apa (dosa). Dan siapa yang berdusta atasku dengan sengaja maka bersiap-siaplah menempati tempat duduknya di neraka"



[Bukhari no. 3202. Tirmidzi no.2593, ".."Sampaikanlah dariku walaupun hanya satu ayat, dan ceritakanlah dari bani Israil, dan tidak ada dosa..". Juga di Abu Dawud 3177; Musnad Ahmad no. 6198, 6594, 6711. Darimi no.541. Juga di Ahmad no. 9746 (Riwayat Yahya - Muhammad bin 'Amru - Abu Salamah - Abu Hurairah - Nabi SAW: "Riwayatkanlah dari bani Isra`il dan kalian tidak berdosa")]



AL-TABARI

Seseorang mungkin berkata: Jika ini seperti yang engkau gambarkan, namakan, bahwa Alah menciptakan Bumi sebelum langit lantas apa arti pernyataan Ibn ‘Abbas yang disampaikan pada kamu semua oleh Wasil b. ‘Abd al-A‘la al-Asadi- Muhammad b. Fudayl- al-A‘mash- Abu Zabyan- Ibn ‘Abbas: "Yang paertama kali Allah ciptakan adalah pulpen." Allah berkata padanya [pulpen]: "Tuliskan!", kemudian pulpen bertanya: "Apa yang harus saya tulis, Allahku!" Allah menjawab: "Tuliskan apa yang telah di takdirkan!" Ia kemudian melanjutkan: dan pulpen itu melanjutkan [menulis] apapun yang telah digariskan hingga saat kiamat. Allah kemudian mengangkat uap air dan membagi terpisah para langit dari itu. Kemudian Allah menciptakan IKAN [nun] dan Bumi kemudian dihamparkan di atas punggungnya [ikan]. Ikan itu menjadi tidak tenang/gelisah yang mengakibatkan bumi menjadi goncang. Yang kemudian dikokohkan dengan gunung-gunung yang menjulang tinggi.



Aku diberitahu hal yang sama oleh Wasil - Waki’ - al-A‘mash - Abu Zabyan - Ibn ‘Abbas.



Menurut Ibn al-Muthanna - Ibn Abi ‘Adi - Shu‘bah - Sulayman (al-A‘mash?) - Abu Zabyan - Ibn ‘Abbas: "Yang pertama kali Allah ciptakan adalah pulpen." Ia meneruskan [menulis] apapun yang akan terjadi. Allah kemudian mengangkat uap air, dan langit tercipta dari itu. Kemudian Ia menciptakan IKAN, dan bumi dihamparkan di atas punggungnya [Ikan]. Ikan itu bergerak, yang mengakibatkan bumi jadi bergoncang. Kemudian dikokohkan dengan gunung-gunung yang menjulang tingi. Jadi, Ia katakan dan Ia sampaikan:"Nun, demi kalam dan apa yang mereka tulis"



Aku di beritahu hal yang sama oleh Tamim b. al-Muntasir - Ishaq (b. Yusuf) - Sharik (b. ‘Abdallah al-Nakha‘i) - al-A‘mash - Abu Zabyan/Mujahid - Ibn ‘Abbas, dengan perbedaan, yang Ia katakan: "dan para langit membagi terpisah [sebagai ganti: diciptakan] dari itu".



Menurut Ibn Bashshar - Yahya - Sufyan - Sulayman (al-A‘mash?) - Abu Zabyan - Ibn ‘Abbas: "Yang pertama kali Allah ciptakan adalah pulpen". Allah berkata pada nya [pulpen]: Tuliskan!, kemudian pulpen bertanya: Apa yang harus saya tulis, Allahku! Allah menjawab: Tuliskan apa yang telah di takdirkan! Ia kemudian melanjutkan: dan pulpen itu melanjutkan [menulis] apapun yang telah digariskan hingga saat kiamat. Kemudian Allah menciptakan IKAN [nun]. Ia kemudian mengangkat uap air dan membagi terpisah para langit dari itu, dan Bumi kemudian dihamparkan diatas punggungnya [ikan]. Ikan itu menjadi tidak tenang/gelisah yang mengakibatkan bumi menjadi goncang. Yang kemudian di dikokohkan dengan gunung-gunung yang menjulang tinggi.



Menurut Ibn Humayd - Jarir (b. ‘Abd al-Hamid) - ‘Ata’ b. al-Sa’ib - Abu al-Duha Muslim b. Subayh - Ibn ‘Abbas: "Yang pertama kali Allah ciptakan adalah pulpen". Allah kemudian berkata padanya: "Tuliskan!", dan ia tuliskan apapun yang akan terjadi hingga kiamat tiba. Kemudian Allah menciptakan IKAN. Kemudian ia tumpukan Bumi padanya.

---

Menurut Muhammad b. Sahl b. 'Askar-Isma'il b. 'Abd al-Karim - Wahb, menyebutkan beberapa dari keagungannya (yang digambarkan sebagai berikut): para langit dan Bumi dan Lautan ada didalam Tubuh [Haykal], dan Haykal itu ada di dalam ganjal. Kaki Allah ada di atas ganjal. Ia bawa ganjal itu. Itu kemudian menjadi seperti Sendal pada kakinya. Ketika Wahb di tanya: Apa Haykal itu? Ia menjawab: Sesuatu yang ada di ujung2 dilangit yang mengelilingi bumi dan lautan-lautan seperti tali temali yang digunakan untuk mengencangkan tenda/kemah. Dan ketika Wahb di tanya bagaimana bumi-bumi [disusun], Ia menjawab: Adalah tujuh langit yang Rata/datar dan pulau-pulau. Setiap dua bumi, terdapat lautan. Semua di kelilingi Lautan, dan Haykal ada dibalik lautan [Ibid., pp. 207-208]



Tafsir Ibnu Katsir

Dikatakan bahwa "Nun" merujuk pada IKAN PAUS BESAR yang ada di Air di Lautan yang sangat luas dan di atas punggungnya ia membawa tujuh bumi, sebagaimana disampaikan Imam Abu Jafar Ibn Jarir:

Ibn Bashar - Yahya - Sufyan Al-Thuri - Sulayman Al-Amash - Abu Thubian - Ibn Abbas yang diberkati: "Pertama kali yang Allah ciptakan adalah pulpen dan mengatakan: 'tuliskan'. (Pulpen) bertanya, "Apa yang mesti saya tulis?" (Allah) berkata, "Tuliskan semuanya" Jadi (pulpen) tuliskan semua hingga saat kiamat. Kemudian (Allah) ciptakan "nun" dan mengangkat uap air memisahkan gulungan para langit dan bumi diletakkan GEPENG/PIPIH/DATAR di punggung Nun. Nun menjadi gelisah, bumi bergoyang/bergoncang, (Allah) mengencangkan (bumi) dengan gunung-gunung, bumi menjadi stabil/kokoh.

Diriwayatkan oleh Ibn Jarir - Ibn Hamid - Ata’a - Abu Al-Dahee - Ibn Abbas: "Yang pertama kali Allah ciptakan, adalah pulpen kemudian berkata kepadanya, "Tuliskan". Dia menuliskan apa yang terjadi hingga kiamat. Kemudian (Allah) menciptakan Nun di atas air lalu letakan bumi padanya (ikan).

Ibn Abu Nujaih: Ibrahim Ibn Abu Bakar berkata Mujahid berkata: "Dikatakan: Nun adalah Ikan dibawahnya ada tujuh bumi"

At-Tabarani meriwayatkan hadis yang diriwayatkan dari Abu Habib Zaid Al-Mahdi Al Marouzi - Sa’id Ibn Yaqub Al-Talqani - Mu’amal Ibn Ismail - Hamad Ibn Zaid - Ata’a Ibn Al Sa’ib - Abu Al Dahee Muslim Ibn Subaih - Ibn Abbas - NABI SAW: "Yang pertama Allah ciptakan adalah pulpen dan Ikan paus. (Allah) mengatakan (pada) pulpen "tulis". (pulpen) bertanya, "apa yang mesti saya tulis". (Allah) berkata, "semua yang akan terjadi hingga hari kiamat" Kemudian membacakan (Nun, demi kalam dan apa yang mereka tulis) Jadi nun adalah ikan.



Dalam tafsir AQ 20.6,

Ibn kathir menukil hadis marfu (sanad bersandar hingga rasullullah) dari Ibn Abu Hatim:

Ibnu Abi Hatim: Abu'Ubaidillah keponakan ibn Wahab - pamannya - Abdullah bin Ayyash - Abdullah bin Suleiman - daraj - isa ibn hilal al-sadafi - Abdullah bin 'Amr - Rasulullah SAW: "antara bumi dan semua yang berikutnya berjarak 500 tahun berjalan kaki, dan itu ada diatas punggung ikan paus,..." Hadis ini gharib Jiddan.

Selengkapnya: http://quran.ksu.edu.sa/tafseer/katheer/sura20-aya6.html



Dalam tafsir AQ 2.29,

Ibn Kathir menukil As-Saddi di dalam kitab tafsirnya, dari Abu Malik, dari Abu Saleh, dari Ibnu Abbas, juga dari Murrah, dari Ibnu Mas'ud, serta dari sejumlah sahabat sehubungan dengan makna firman-Nya: [AQ 2.29] Disebutkan bahwa 'Arasy Allah Swt. berada di atas air, ketika itu Allah Swt belum menciptakan sesuatu pun selain dari air tersebut. Ketika Allah berkehendak menciptakan makhluk, maka Dia mengeluarkan asap dari air tersebut, lalu asap (gas) tersebut membumbung di atas air hingga letaknya berada di atas air, dinamakanlah sama (langit). Kemudian air dikeringkan, lalu Dia menjadikannya bumi yang menyatu. Setelah itu bumi dipisahkan-Nya dan dijadikan-Nya tujuh lapis dalam dua hari, yaitu hari Ahad dan Senin. Allah menciptakan bumi di atas ikan besar, dan ikan besar inilah yang disebutkan oleh Allah di dalam Al-Qur'an melalui firman-Nya: "Nun, demi qalam" (QS 68.1). Sedangkan ikan besar (nun) berada di dalam air. Air berada di atas permukaan batu yang licin, sedangkan batu yang licin berada di atas punggung malaikat. Malaikat berada di atas batu besar, dan batu besar berada di atas angin. Batu besar inilah yang disebut oleh Luqman bahwa ia bukan berada di langit, bukan pula di bumi. Kemudian ikan besar itu bergerak, maka terjadilah gempa di bumi, lalu Allah memancangkan gunung-gunung di atasnya hingga bumi menjadi tenang; gunung-gunung itu berdiri dengan kokohnya di atas bumi. Hal inilah yang dinyatakan di dalam firman Allah Swt: (AQ 21.31) [Tafsir Ibnu Katsir, Juz 1, Al-Fatiha - Al- Baqarah, Al-Imam Abul Fida Isma'il Ibnu Kasir Ad-Dimasyqi, Penerjemah: Bahrun Abu Bakar, L.C. Dibantu: H. Anwar Abu Bakar, L.C., SBA.2000.438, cetakan ke-1, tahun 2000, Penerbit Sinar Baru Algensindo Bandung, Anggota IKAP1 No.025/IB A, hal 351-352]



TAFSIR IBN ABBAS

Dan dari riwayatnya yang berasal dari Ibn 'Abbas yang ia katakan berkenaan dengan intepretasi apa yang allah katakan (Nun): '(Nun) Ia katakan: Allah bersumpah demi Nun, yang adalah Ikan paus yang membawa Bumi di punggungnya ketika di air, dan di bawah itu adalah banteng, dibawah banteng adalah bebatuan dan dibahwa bebatuan...Nama Ikan Paus itu adalah Liwash, dan dikatakan bahwa namanya adalah Lutiaya'; nama dari banteng itu adalah Bahamut, dan beberapa mengatakan namanya adalah Talhut atau Liyona. Ikan paus itu ada di laut yang dinamakan 'Adwad, dan itu bagaikan banteng kecil di lautan yang sangat luas. Lautan itu ada di Bebatuan cekung dengan 4,000 celah, dan dari tiap celah itu air keluar ke bumi.



Dikatakan juga bahwa Nun adalah satu dari nama-nama Allah; yaitu kepanjangan dari huruf Nun pada nama Allah al-Rahman (Pemurah); dan juga dikatakan bahwa Nun adalah bak tinta. (demi pulpen) Allah bersumpah demi pulpen. Pulpen dibuat dari Cahaya dan tingginya setara jarak Langit dan bumi.



Adalah dengan pulpen ini perangkat Ingatan, misal. Catatan yang dijaga, dituliskan. Juga dikatakan bahwa pulpen adalah satu dari para malaikat yang mana Allah bersumpah, (dan yang mana mereka tuliskan dan Allah juga bersumpah dengan apa yang para malaikat itu tuliskan pada kegiatan-kegiatan turunan Adam, [Tanwîr al-Miqbâs min Tafsîr Ibn 'Abbâs]



Note:

Al-Bahmout atau Bahamut juga ada di mitologi Arab, yaitu kisah 1001 malam pada hari ke-496. Bahamut dinyatakan sebagai Ikan besar. Bahamut tidak sama dengan Behemoth [Malaikatyang disembah Yahudi yang kemudian dipropagandakan sebagai setan lagi monster untuk kembali ke Tauhid].





Tafsir al-Tustari

Ibn 'Abbas' berkata pada laporan lain, 'Nun adalah Ikan yang di atasnya seluruh bumi(arḍūn) berada,..'

Selengkapnya: http://www.altafseer.com/Tafasir.asp?tMadhNo=0&tTafsirNo=93&tSoraNo=68&tAyahNo=1&tDisplay=yes&UserProfile=0&LanguageId=2



Wah. Sudah jauh kita berjalan. Mengenai Kosmologi Bumi Datar diatas Ikan Paus ini memang sangat menuai kontravensi ya?

Lanjut lagi.

Abdullah bin Abbas berkata:

“Sesuatu yang pertama kali diciptakan oleh Allah adalah pena, maka ia menulis semua kejadian, kemudian uap air diangkat ke atas, maka darinyalah langit-langit diciptakan, kemudian Dia (Allah) menciptakan Nuun, yaitu; ikan paus, maka dihamparkannya bumi di atas punggung ikan paus tersebut, maka bumi pun bergerak dan berguncang, lalu ditopang oleh gunung-gunung, maka gununglah yang lebih utama dari pada bumi, lalu beliau berkata dan membaca: “Nuun, demi pena dan apa yang mereka tulis”.



(Diriwayatkan oleh Abdur Razzaq dalam Tafsirnya: 2/307, dan Ibnu Abi Syaibah: 14/101, dan Ibnu Abi Hatim-sebagaimana di dalam Tafsir Ibnu Katsir: 8/210, dan Thabari dalam Jami’ Al Bayan: 23/140, dan Hakim dalam Al Mustadrak: 2/540, dan masih banyak yang lainnya, semua riwayat dari jalur Al A’masy, dari Abi Dzabyan Hushain bin Jundub, dari Ibnu Abbas, yang ini sanadnya shahih. Al Hakim berkata: ini adalah hadits yang shahih sesuai dengan syarat kedua Syeikhan (Bukhori dan Muslim) namun keduanya tidak meriwayatkannya. Adz Dzahabi berkata dalam at Talkhish: Sesuai dengan syarat Bukhori dan Muslim. Sebagaimana yang diriwayatkan dari Mujahid, Muqatil, Sudi dan al Kalbi. Silahkan anda baca: (Ad Durrul Mantsur: 8/240, dan Tafsir Ibnu Katsir: 8/185 dalam permulaan tafsir surat al Qalam).



Jika kita melihat, ini adalah Atsar dari Ibnu Abbas yang terkesan Israillyat. Lalu apa pendapat Ulama mengenai pengambilan cerita dari Bani Israil?



Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah:

Cerita Israiliyat yang sahih dapat diterima, yang dusta/bertentangan dengan syari'at ditolak dan yang tidak diketahui kebenarannya/kepalsuannya, maka tawaqquf (tidak dibenarkan/tolak, tidak mengimani/dustakannya) [Ibn Al-Araby, Ahkam Al Qur’an, Mesir, Isa Al Babi Ai-Halabi Wa Syurakahu, juz I, hal. 11, 27, 28].

Al-Hafizh Ismail ibn Katsir:

"Kami TIDAK AKAN menyebutkan riwayat-riwayat israiliyyat, KECUALI YANG TELAH DIIZINKAN oleh syariat untuk dinukil YANG TIDAK menyelisihi al-Qur'an dan sunnah RasulNya.." [Lihat pengantar dari al bidayah wan nihayah] dan dalam setiap hadis yang dikutip Ibn kahtir, Ia SELALU MENYEBUTKAN derajat hadisnya dan JIKA itu LEMAH Ia berikan PENJELASAN tentang itu.



Mengenai Atsar dengan tuduhan Israillyat biasanya dituduhkan kepada 4 orang.

Riwayat yang dituduhkan Israiliyat, biasanya dikaitkan pada 4 nama: Abdulah Ibn Salam, Wahb Ibn Munabbih, Ka’b Al-Akhbar dan Abd Al Malik Ibn Abd Aziz Ibn Juraij. Tuduhan ini adalah sangat mengada-ada:



Untuk Abdullah Ibn Salam,

merupakan kalangan Yahudi pertama yang masuk Islam, yaitu ketika pertama kalinya Muhammad mencapai Medina Hijrah (namun ada yang menyatakan bahwa ia masuk Islam BUKAN di tahun awal Medinah tapi di tahun ke-8 H). Abdullah bin Salam, adalah satu-satunya orang yg disebutkan sebagai orang yang masih hidup dan berjalan namun sudah mendapatkan jaminan surga, sebagaimana disampaikan hadis riwayat Sa’ad bin Abi Waqash: "Aku tidak pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda tentang seseorang yang masih hidup dan berjalan (di muka bumi): “orang itu berada di surga”, KECUALI Abdullah bin Salam." [Bukhari no. 3812, Muslim no. 2483 dan Ahmad no. 1453]. Ia juga orang ke-10 yang masuk surga, sebagaimana hadis riwayat Mu’adz bin Jabal,"Carilah ilmu pada 4 orang: Uwaimir Abu Darda’, Salman Al-Farisi, Abdullah bin Mas’ud dan Abdullah bin Salam yang dahulunya Yahudi kemudian masuk Islam, karena sesungguhnya aku telah mendengar Rasulullah SAW bersabda tentang Abdullah bin Salam: “Ia adalah orang ke-10 dari 10 orang penghuni surga." [Tirmidzi no. 3804, An-Nasai dalam as-sunan al-kubra no. 8253, Ahmad no. 22104, Al-Hakim no. 334, dan Ibnu Hibban no. 7165, hadis shahih]. Ia juga merupakan saksi dalam turunnya AQ 46:10 dan AQ 2:97



Aneh sekali menuduh seorang yang Nabi SAW katakan ketika masih hidup sudah mendapat jaminan surga sebagai Israiliyat.



Untuk Wahb Ibn Munabbih,

Ibn Hajjar: Tsiqah (dapat dipercaya memegang amanat) [Ahmad Ibn `Ali Ibn Hajar al-`Asqalani, Taqrib al-Tahdhib, Volume II, 1960, Al-Maktabat al-`Ilmiyyah: Al-Madinah, p. 339.]. Al-`Ijli: Penerus, Tsiqah [Ahmad Ibn `Abdullah Ibn Salih Abu al-Hassan al-`Ijli, Tarikh al-Thiqat, 1984 Edition, Dar al-Kutub al-`Ilmiyyah, Beirut (Lebanon), p. 467, No. 1786.] malah Abu Zur`ah, al-Nasa'i, Ibn Hibban dan banyak lagi menyatakan: Tsiqah [ibid]. Imam al-Suyuti: memasukan Wahb kedalam pengingat hadis [Jalal al-din `Abd al-Rahman al-Suyuti, Tabaqat al-Huffadh, 1983 Edition, Dar al-Kutub al-`Ilmiyyah, Beirut (Lebanon), p. 48, No. 92.]. Ulama hadis termasuk Bukhari, Muslim, Abu Dawud dan Tirmidhi menyampaikan hadis darinya. Dhahabi: Tsiqah dan dapat dipercaya [Muhammad Husayn al-Dhahabi, Al-Tafsir wa 'l-Mufassirun, Dar al-Qalam, Beirut, Volume I, hal. 199]



Aneh sekali menuduh seorang yang dapat dipercaya memegang amanat sebagai Israiliyat.



Untuk Ka'b Al Ahbar,

Syaikhul Islam, Al Hafiz Ibn hajar Asqalani: Ka`b Ibn Mati`al-Himyari, Abu Ishaq, dikenal sebagai Ka`b al Ahbar adalah dapat di percaya (Tsiqah), masuk kategori ke-2 [tabaqah]. Hidup selama masa Jahiliyah dan Islam, tinggal di Yaman sebelum pindah ke Sham dan wafat di jaman khalifah Usman, berusia lebih dari 100 tahun. [Ahmad Ibn `Ali Ibn Hajar al-`Asqalani, Taqrib al-Tahdhib, Vol.II, 1960, Al-Maktabat al-`Ilmiyyah: Al-Madinah, hal.135] (Ia wafat 32 H di usia 140 tahun).



Ibn Sa’ad: Ka’ab Al-Akhbar adalah tingkatan ke-1 dan tabi’in di Syam yang banyak meriwayatkan hadis termasuk dari Rasulullah secara mursal dan Umar, Shuhaib, dan Aisyah. Hadis-hadis Ka'b diriwayatkan oleh Mu’awiyah, Abu Hurairah, Ibnu Abbas, Atha bin Rabah, dan lainnya. Abdullah Ibn Zubair: Ia mempunyai semacam prediksi yang tepat. Dr. Muhammad Husayn al-Dhahabi: "...Jika hendak menyalahkan Ka'b dan lainnya, maka kami tidak sepakat, karena apapun yang Ka'b dan lainnya riwayatkan dari para ahlul kitab, MEREKA TIDAK PERNAH BERKATA BAHWA ITU BERASAL DARI NABI SAW, jadi Ia tidak BERBOHONG. Mereka hanya meyampaikan apa adanya yang ada di buku kaum Israil, tidak wajib bagi kita untuk percaya ataupun dimintakan untuk percaya..." [Muhammad Husayn al-Dhahabi, "Al-Tafsir wa'l-Mufassirun", Dar al-Qalam, Beirut, Vol I, hal.192].



Alasan lain Dhahabi adalah karena para sahabat seperti Ibn Abbas dan Abu Hurairah mustahil mengambil riwayat darinya jika Ia pendusta disamping itu, para muhadditsin seperti Imam Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, dan Nasai memasukkan riwayat darinya maka Ka’ab merupakan seorang yang ‘adil dan tsiqah. Dhahabi membantah pendapat Ahmad Amin [Adz-Dzahabi At-Tafsir, him. 184-187] dan Rasyid Ridha [Ahmad Ainin, Fajru Al Islam, hal.198] yang menuduh Ka’ab pendusta hanya karena lbn Qutaibah dan An-Nawawi tidak meriwayatkan darinya dan hanya karena At-Tabari sedikit meriwayatkan darinya.



Al Hafidz Ibnu Katsir dalam al Bidayah wan Nihayah:



"..Ismail ibn Abdu-rahman as Suddi menyebutkan hadis dari Abu Malik dan Abu Salih dari Ibn 'Abbas, Murrah AlHamdani (yang berasal dari Ibn Mas'ud) dan para sahabat Nabi SAW, mengenai perkataannya "Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit [AQ 2.29]



Mereka berkata bahwa Tahta Allah ada di atas air. Tidak ada penciptaan sebelum Air. Ketika Ia ingin mencipta. Ia ambil uap dari Air. Uap itu terangkat ke atas, air berkumpul di atasnya. Ia kemudian menamakan itu "Langit". Kemudian ia keringkan air, dan membuatnya menjadi 1 bumi. Ia kemudian memisahkannya dan menjadikannya menjadi 7 Bumi dalam 2 hari - Minggu dan Senin. Ia ciptakan bumi di atas Ikan [hut], Itu adalah paus (nun) yang disebutkan di Qur'an: "Ikan. Demi Qalam." (AQ 68.1) Paus ada di air. Air ada di atas bebatuan [kecil]. Batuan ada di punggung Malaikat. Malaikat ada di atas Bebatuan [Besar]. Bebatuan besar -yang disebutkan di Luqman - ada di angin, tidak dilangit atau di bumi. Ikan bergerak dan menjadi gelisah. Sebagai hasilnya, Bumi menjadi berguncang [gempa]. Kemudian ia kokohkan, pasakan gunung2 di atasnya, dan manjadi stabil. Allah menciptakan gunung-gunung dan segala yang bermanfaat dan hal berguna padanya di Selasa dan Rabu. Ia ciptakan pohon-pohon, air, kota-kota dan pembudidayaan tanah tandus. Ia belah langit, yang asalnya satu menjadi 7 langit dalam 2 hari - Kamis dan Jumat - dan Ia sebut Jumat, al Jumu'ah, karena pada hari itu, Ia satukan ciptaan langit dan bumi dan berikan perintah pada setiap langit. Ia ciptakan di setiap langit para malaikat, laut-laut, gunung-gunung dan menyerukan pada lainnya bahwa tiada yang tau kecuali dirinya. Ia kemudian hiasi langit dengan bintang-bintang dan menjadikannya sebagai perhiasan dan penjaga dari para Setan. Kemudian Ia selesaikan ciptaannya dengan apa yang Ia sukai. Ia naikan Arsynya"



Dalam sanad ini As Suddi menyampaikan banyak hal mengejutkan yang seakan berasal dari Israiliyyat. Ini karena ketika Ka'b Al Ahbar masuk Islam di jaman khalifah Umar, Ia biasa berbincang dengan Umar mengenai pengetahuan para Ahlul kitab dan Umar mendengarkannya, bersikap ramah dan kagum atas apa yang disampaikannya banyak sejalan dengan kebenaran di Quran dan sabda Nabi. Sebagai hasilnya banyak yang menganggap boleh menyampaikan apa yang Ka'b Al-Ahbar katakan. Bukhari menyampaikan di sahihnya dari riwayat Muawiyah yang berkata tentang Ka'b AI-Ahbar, "biarpun Ia yang paling terpercaya menyampaikan hal-hal dari kaum ahlul kitab, kita tahu beberapa yang dikatakannya tidak benar" Ini artinya, Ia menganggap yang disampaikanya tidak benar, TIDAK MENGANGGAP bahwa Ka'b dengan sengaja menyampaikan dusta - dan Allah maha mengetahui.



Note:

Anggapan tentang Ka'b ini cenderung keliru karena Umar bin Khattab bahkan telah memberikan ancaman dan telah melarang K'ab menceritakan kitab-kitab sebelumnya:



Umar melarang Ka’b menceritakan apa yang tercantum di kitab-kitab sebelumnya dan berkata, "Kamu harus meninggalkan itu, atau Aku tempatkan kamu di tanah para monyet" [Fath al-Mughith by Al-Sakhawi, diambil dari sini]

Umar menjadi Khalifah tahun 634 M, masuk Jerusalem tahun 637 M dan wafat di tahun 644 M (67 tahun). Sementara Ka'b wafat di tahun 652 M. Ka'b menjadi mualaf di usia tuanya, jika Ka'b wafat di usia lebih dari 100 tahunan, maka usianya ketika menjadi mualaf adalah lebih dari 90 tahun dan jika Ka'b wafat diusia 140 tahunan, maka usianya ketika menjadi mualaf adalah di 130an tahun!



Memperhatikan hadis di bawah ini, ketika Umar di Jerusalem, tampaknya Kaab masih memeluk agama lamanya:



Riwayat Aswad - Abu Salamah - Abu Sinan - 'Ubaid Bin Adam - Umar Bin Al Khaththab bertanya kepada Ka'ab: "Di mana menurutmu aku melaksanakan shalat?". Ka'ab menjawab; "Jika kamu menerima pendapatku shalatlah kamu di belakang batu besar, maka Al Quds semuanya akan berada di hadapanmu." Umar berkata; "Kamu menyerupai orang-orang Yahudi, tidak, aku akan shalat seperti Rasulullah SAW" [Ahmad no.252].

Jadi, aneh sekali seorang setua itu masih terlibat aktif dalam kegiatan dakwah islamiyah dan dianggap masih dapat mengingat banyak hal.



Untuk Abd Al-Malik Ibn Abd Al-’Aziz Ibn Juraij,

Seorang Imam, kalangan sunni menganggapnya, pengumpul hadis pertama dalam sebuah buku, "Musannaf ibn Juraij". Ayahnya seorang ulama Muslim dan kakeknya dulu seorang kristen romawi. Juraij lahir di tahun 80H (699 M) dan wafat di tahun 150H (767 M), hadisnya kebanyakan berasal dari Ata ibn Abi Rabah (gurunya, 40%), Amr Ibn Dinar (7%), Ibn Shihab/Al-Zuhri (juga gurunya, 6%), ibn Tawus (5%), Abu Al Zubayr (4%), Abdul Al-Karim/Al Jazari (3%) ["Qur'anic Exegesis in Classical Literature", Rashid Ahmad Jullundhry, hal.16; "Analysing Muslim Traditions: Studies in Legal, Exegetical and Maghāzī Ḥadīṯ", Nicolet Boekhoff-van der Voort, Sean W. Anthony, hal.11-18]



Oke saya rasa cukup dulu.

Sampai jumpa lagi.

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

Silahkan bertanya jika ada yang belum jelas.

Comments

  • No Comment Yet
Please login first for post a comment

Widget