Flat Earth 77 Episode 3: Menjawab Bantahan Buya Yahya Tentang Bumi Diam

Note:
Sebelum membaca posting ini Anda harus berjanji untuk tidak berdebat, bermusuhan, apalagi meng-kafir-kan sesama muslim.
Anda juga harus berjanji untuk menyebarkan posting ini.

URL:

HTML:

Menjawab Bantahan Buya Yahya Flat Earth
Flat Earth Episode 3©Reha.Bloger.ID


Assalamu'alaikum Wr. Wb.
Jumpa kembali dengan saya di Flat Earth 77. Kali ini Flat Earth 77 akan menjawab bantahan Buya Yahya tentang bumi yang diam. Sebenarnya saya sebelumnya tidak berniat menjawab bantahan ini. Namun, penanya tetap ingin mendapat jawaban saya. Baiklah. Kita akan mulai agar cerita ini menjadi menarik, mengalir, dan mudah dimengerti.


Posting ini dibuat untuk menjawab bantahan Buya Yahya tentang Bumi Diam di Al-Bahjah TV.
Semoga bermanfaat, menambah wawasan Anda, dan memperkuat iman Anda.


Sebelum menjawab, saya kutip dulu apa yang dikatakan Buya Yahya tentang bumi diam.
"...Kalau betul dikata Ridha, bukan berarti bumi itu tidak bergerak. Ridha itu, bumi itu tidak pernah protes. Bisa saja maknanya begitu. Jadi kita tidak boleh menafsiri seenaknya sendiri... (Kalimat ini saya setuju, karena ini juga menentang tafsir telur burung unta yang mengatakan kata Dahaha bermakna seperti telur burung unta, walau kenyataannya orang Arab saja tidak setuju). Adapun masalah bumi ini berputar. Al-Qur'an menjelaskan itu mengitari semuanya. Kemudian juga antara gagas bumi itu bundar. Gk ada malam mendahului siang, tiada siang mendahului malam. Malam ada, siang ada. Bagaimana? Malam itu akan selalu ada dan siang selalu ada. Bukan berarti malam menghapus oleh siang. Tidak!... Siang itu ada dan malam ada. Kalau perputaran kita makanya disaat bumi itu berputar, ketemu siang. Kemudian berputar lagi. ketemu malam. Jadi siang dan malam tidak pernah hilang... Ini menunjukkan bumi itu bulat dan berputar melalui garis edarnya. Dan itu adalah itu. Di isyarat-kan dalam Al-Qur'an... Jangan menganggap gunung itu diam. Itu semua itu berputar. Bahkan lebih kencang daripada awan..."
(Maaf jika tidak saya kutip semua. Saya hanya kutip yang termasuk bantahan Buya terhadap fakta bumi diam.)


Sebenarnya yang dikatakan oleh Buya tidaklah menunjukkan bahwa bumi diam.
Faktanya Ayat-Ayat Al-Qur'an dan Riwayat-Riwayat Al-Hadits menunjukkan Fakta Bumi Diam. Begitu juga pendapat-pendapat Ulama.
Untuk menunjukkan Fakta Bumi Diam, berikut saya tunjukkan Dalil-dalil-nya.


Dari Tafsir Surat Al-Kahfi Halaman 81 dari Syaikh Ibnu Utsaimin.
Beliau berkata, “Sebagian orang berkata bahwa ayat ini menunjukkan, bumi mengelilingi matahari. Penafsiran ini keliru dan berkata atas Allah tanpa dasar ilmu, karena konteks ayat di atas tidak menunjukkan hal itu, coba perhatikan secara sempurna: “Dan (ingatlah) hari (ketika) ditiup sangkakala, maka terkejutlah segala yang di bumi, kecuali siapa yang dikehendaki Allah. Dan semua mereka datang menghadap-Nya dengan merendahkan diri. Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap di tempatnya padahal ia berjalan sebagaimana jalannya awan. (Begitulah) perbuatan Allah yang membuat dengan kokoh tiap-tiap sesuatu, sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan. Barangsiapa yang membawa kebaikan, maka ia memperoleh (balasan) yang lebih baik daripadanya, sedang mereka itu adalah orang-orang yang aman tentram dari kejutan yang dahsyat pada hari itu.” (QS.An-Naml:87-89)
Ayat ini secara jelas menunjukkan bahwa kejadian tersebut adalah ketika hari kiamat.
(Dikutip dari Flat Earth 77 Episode 2: Pergerakan Gunung. Lihat selengkapnya di http://reha.bloger.id/fe77-episode-2.xhtml)


Dhahirnya dalil-dalil syar’i menetapkan bahwa mataharilah yang berputar mengelilingi bumi dan dengan perputarannya itulah menyebabkan terjadinya pergantian siang dan malam di permukaan bumi, tidak ada hak bagi kita untuk melewati dhahirnya dalil-dalil ini kecuali dengan dalil yang lebih kuat dari hal itu yang memberi peluang bagi kita untuk menakwilkan dari dhahirnya. Diantara dalil-dalil yang menunjukkan bahwa matahari berputar mengelilingi bumi sehingga terjadi pergantian siang dan malam adalah sebagai berikut.
[1]. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman tentang Ibrahim akan hujahnya terhadap yang membantahnya tentang Rabb.
“Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah dia dari barat,….”[Al Baqarah : 258]

Maka keadaan keadaan matahari yang didatangkan dari timur merupakan dalil yang dhahir bahwa matahari berputar mengelilingi bumi.

[2]. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman juga tentang Ibrahim.

“Kemudian tatkala dia melihat matahari terbit, dia berkata: ‘Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar’, maka tatkala matahari itu terbenam dia berkata : ‘Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan.’”[Al-An’am : 78]

Jika Allah menjadikan bumi yang mengelilingi matahari niscaya Allah berkata: “Ketika bumi itu hilang darinya”.

[3]. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

“Dan kamu akan melihat matahari ketika terbit, condong dari gua mereka berada disebelah kanan, dan bila matahari itu terbenam menjauhi mereka ke sebelah kiri sedang mereka berada dalam tempat yang luas dalam gua itu….” [Al-Kahfi : 17]

Allah menjadikan yang condong dan menjauhi adalah matahari, itu adalah dalil bahwa gerakan itu adalah dari matahari, kalau gerakan itu dari bumi niscaya Dia berkata: “gua mereka condong darinya (matahari)”.

Begitu pula bahwa penyandaran terbit dan terbenam kepada matahari menunjukkan bahwa dialah yang berputar meskipun dilalahnya lebih sedikit dibandingkan dilalah firman-Nya “(condong) dan menjauhi mereka)”.

[4]. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.
"Dan Dialah yang telah menciptakan malam dan siang,matahari dan bulan. Masing-masing dari keduanya itu beredar di dalam garis edarnya.”[Al-Anbiya’ : 33]

Ibnu Abbas radhiallahu anhu berkata: “Berputar dalam suatu garis peredaran seperti alat pemintal”. Penjelasan itu terkenal darinya.

[5]. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.
"Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat,…”[Al-A’raf : 54]

Allah menjadikan malam mengejar siang, dan yang mengejar itu yang bergerak dan sudah maklum bahwa siang dan malam itu mengikuti matahari.

[6]. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.
"Dia menciptakan langit dan bumi dengan (tujuan) yang benar; Dia menutupkan malam atas siang dan menutupkan siang atas malam dan menundukkan matahari dan bulan, masing-masing berjalan menurut waktu yang ditentukan. Ingatlah Dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” [Az Zumar : 5]

Firman-Nya: “Menutupkan malam atau siang” artinya memutarkannya atasnya seperti tutup sorban menunjukkan bahwa berputar adalah dari malam dan siang atas bumi.

Kalau saja bumi yang berputar atas keduanya (malam dan siang) niscaya Dia berkata: “Dia menutupkan bumi atas malam dan siang”.

Dan firman-Nya: “matahari dan bulan, semuanya berjalan”, menerangkan apa yang terdahulu menunjukkan bahwa matahari dan bulan keduanya berjalan dengan jalan yang sebenarnya (hissiyan makaniyan), karena menundukkan yang bergerak dengan gerakannya lebih jelas maknanya daripada menundukkan yang tetap diam tidak bergerak.

[7]. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.
"Demi matahari dan cahayanya di pagi hari, dan bulan apabila mengiringinya,”[Asy-Syam : 1-2]

Makna (mengiringinya) adalah datang setelahnya. Dan itu dalil yang menunjukkan atas berjalan dan berputarnya matahari dan bulan atas bumi.

Seandainya bumi yang berputar mengeliligi keduanya tidak akan bulan itu mengiringi matahari, akan tetapi kadang-kadang bumi mengelilingi matahari dan kadang-kadang matahari mengeliling bulan, karena matahari lebih tinggi dari pada bulan. Dan untuk menyimpulan ayat ini membutuhkan pengamatan.

[8]. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman
"Dan suatu tanda (kekuasaan Allah yang besar) bagi mereka adalah malam; Kami tanggalkan siang dan malam itu, maka dengan serta merta mereka berada dalam kegelapan, dan matahari berjalan ditempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui. Dan telah Kami tetapkan bagi bulan manzilah-manzilah, sehingga (setelah dia sampai ke manzilah yang terakhir) kembalilah dia sebagai tandan yang tua. Tidaklah mugkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malam pun tidak dapat mendahului siang. Dan masing-masing beredar pada garis edarnya.” [Yaa-Siin : 37-40]

Penyandaran kata berjalan kepada matahari dan Dia jadikan hal itu sebagai kadar/batas dari Dzat yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui menunjukkan bahwa itu adalah haqiqi (sebenarnya) dengan kadar yang sempurna, yang mengakibatkan terjadinya perbedaan siang malam dan batas-batas (waktu).

Dan penetapan batas-batas edar bulan menunjukkan perpindahannya di garis edar tersebut.

Kalau seandainya bumi yang berputar mengelilingi maka penetapan garis edar itu bukannya untuk bulan.

Peniadaan bertemunya matahari dengan bulan dan malam mendahului siang menunjukkan pengertian gerakan muncul dari matahari, bulan malam dan siang.

[9]. Nabi Shallallahu ‘alaihi wassallam berkata kepada Abu Dzar radhiallahu anhu dan matahari telah terbenam.

“Artinya : Apakah kamu tahu kemana matahari itu pergi ?”

Dia menjawab: “Allah dan RasulNya lebih tahu”.

Beliau bersabda: “Sesungguhnya dia pergi lalu bersujud di bawah arsy, kemudian minta izin lalu diijinkan baginya, hampir-hampir dia minta izin lalu tidak diijinkan.

Kemudian dikatakan kepadanya: “Kembalilah dari arah kamu datang lalu dia terbit dari barat (tempat terbenamnya) atau sebagaimana dia bersabda [Muttafaq ‘alaih] [1]

PerkataanNya: “Kembalilah dari arah kamu datang, lalu dia terbit dari tempat terbenamnya” sangatlah jelas sekali bahwa dia (matahari) itulah yang berputar mengelilingi bumi dengan perputarannya itu terjadinya terbit dan terbenam.

[10]. Hadits-hadits yang banyak tentang penyandaran terbit dan terbenam kepada matahari, maka itu jelas tentang terjadinya hal itu dari matahari tidak kepada bumi.”

Boleh jadi disana masih banyak dalil-dalil lain yang tidak saya hadirkan sekarang, namun apa yang telah saya sebutkan sudah cukup tentang apa yang saya maksudkan. Wallahu Muwaffiq.”

[Disalin dari Majmu Fatawa Arkanul Islam, edisi Indonesia Majmu Fatawa Solusi Problematika Umat Islam Seputar Akidah Dan Ibadah, Penulis Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, Terbitan Pustaka Arafah]
_
Asy-Syaikh Abdul Qohir bin Thohir Al-Baghdadi rahimahullah berkata,

“Ulama sepakat bahwa bumi diam dan tidak bergerak, adapun pergerakannya hanyalah apabila ada sesuatu yang menimpanya seperti gempa bumi dan yang semisalnya.” [Al-Farqu baynal Firoq wa Bayaanul Firqotin Naajiyah, hal. 318]

DIANTARA DALIL YANG MENUNJUKKAN BUMI TIDAK BERGERAK

Allah ta’ala berfirman,

“Tidakkah Kami telah menjadikan bumi sebagai hamparan?” [An-Naba’: 6]

Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata,

“Tidakkah Kami telah menjadikan bumi sebagai hamparan? Maknanya: Disiapkan serta ditundukkan untuk kemaslahatan makhluk, dalam keadaan bumi itu diam, tidak bergerak dan tetap.” [Tafsir Ibnu Katsir, 8/302]

Disebutkan dalam fatwa ulama besar Ahlus Sunnah masa ini,

“Sesungguhnya bumi itu tetap (diam), tidak bergerak.” [Fatawa Al-Lajnah Ad-Daaimah, 26/415 no. 18647]

Allah ta’ala berfirman,

“Dan Dialah yang telah menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan. Masing-masing beredar pada garis edarnya.” [Al-Anbiya’: 33]

Allah ta’ala juga berfirman,

“Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malam pun tidak dapat mendahului siang. Dan masing-masing beredar pada garis edarnya.” [Yasin: 40]

Asy-Syaikh Ibnul Utsaimin rahimahullah berkata,

“Zhahir (yang nampak jelas dari) dalil-dalil syari’at, menetapkan bahwa matahari yang berputar mengelilingi bumi, dan dengan perputarannya terjadilah pergantian malam dan siang di atas permukaan bumi. Dan tidak sepatutnya bagi kita untuk melampaui zhahir (yang nampak jelas dari) dalil-dalil ini kecuali dengan dalil yang lebih kuat yang membolehkan kita untuk menafsirkannya hingga keluar dari zhahir-nya.” [Majmu Fatawa war Rosaail, 1/73]

NASIHAT ULAMA BESAR AHLUS SUNNAH WAL JAMA’AH UNTUK PARA GURU PELAJARAN GEOGRAFI

“Wajib atas guru pelajaran Geografi apabila menjelaskan kepada siswa-siswa tentang teori para ahli Geografi seputar diamnya matahari dan berputarnya bumi, hendaklah ia menjelaskan bahwa teori ini bertentangan dengan ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits-hadits Nabi, maka wajib mengambil petunjuk Al-Qur’an dan As-Sunnah, dan menolak pendapat yang menyelisihinya. Dan tidak mengapa menyampaikan teori para ahli Geografi tersebut untuk sekedar mengetahuinya dan membantahnya, sebagaimana pendapat-pedapat yang menyimpang lainnya wajib dibantah, bukan untuk membenarkannya dan mengambilnya.” [Fatawa Al-Lajnah Ad-Daaimah, 26/414-415 no. 15255]

Jadi jelaslah bahwa Fakta Bumi Diam itu memang benar fakta, bukan persepsi atau pun PropaGanda Lembaga Antariksa.

Sementara itu sebenarnya masih banyak Dalil-Dalil menunjukkan Fakta Bumi Diam.
Referensi lain dapat Anda lihat di YouTube atau Google. Berikut saya berikan diantaranya.
Bantahan Ustad Ali Ahmad tentang bumi mengelilingi matahari: FULL BUMI DATAR flat earth dan AGAMA ISLAM yang masuk akal PART 1 (Di Harry Ware Channel, YouTube)
Bantahan Syaikh Abd Shalih Al-Fauzan dan Syaikh Bandar Al-Khabari tentang bumi mengelilingi matahari: Flat Earth Muslim 1 (Di Abu Ismael Channel YouTube)
Mengapa dari Video? Karena itu diucapkan dari mulutnya sendiri. Bukan salah pendengaran, pemalsuan suara, apalagi salah terjemahan. Mereka sendiri yang mengatakannya secara langsung dan direkam. Lumayan menarik, Syakh Bandar Al-Khabari membantah teori bumi mengelilingi matahari ketika ada pelajar yang bertanya, tepat di ulang tahun Galileo Galilei pada tahun 2015 yang menjadi viral di Twiiter, YouTue, Facebook, dan media sosial lainnya. Ketika coa dibantah di The Lip TV, justru ada orang yang mengatakannya seperti ini: Ulama itu tidak sendiri berpendapat. Pandangan itu juga banyak dikemukakan oleh Kaum Skeptik, orang-orang Amerika dan, Fundamentalis Kristen.


Cukup episode 3 kali ini.
Saya kutip apa yang dikatakan Syaikh Abdullah ad-Duwaisy rahimahullah di Harry Ware Channel.
"Asal pendapat bumi mengelilingi matahari diambil dari Phytagoras, seorang filusuf Yunani, dan ini adalah pendapat yang bathil yang sangat diketahui kebathilannya bagi orang yang diberi cahaya oleh Allah SWT. Inilah yang ditetapkan oleh para ulama dan saya tidak mengetahui ada seorang Imam dari kalangan Salaf yang menyelisihnya."
Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

Comments

  • No Comment Yet
Please login first for post a comment

Widget