Suara Ahlus Sunnah Melawan Sekularisme

Suara Ahlus Sunnah wal Jama'ah melawan Sekularisme, Liberalisme, Plularisme, Murji'ah dan Khawarij

"Tatsabut", Adab yang Mesti Dijaga

Plsy Store Street Fight

Tatsabut Adab yang mesti dijaga

"Tatsabut", Adab yang Mesti Dijaga

Oleh Ustadz Abu Hilyah Al Atsari hafizhahullah

Pentingnya belajar adab sebelum belajar ilmu, di antara adab yang luhur adalah "tatsabut" (klarifikasi) sebelum menjatuhkan vonis atau mengambil sikap atau bahkan tanzilul hukmi kepada seseorang. Miris dengan berjamurnya para du'at yang tidak memiliki adab "tatsabut" ini, terlebih memposisikan dirinya seperti seseorang imam ahli jarh wa ta'dil yang dengan secara serampangan menyatakan polan sesat, polan khariji, polan irja'i, polan teroris, dan lain-lain. Padahal, belum pernah klarifikasi dan hanya berdasarkan kepada zhan serta bukan berdasarkan kepada sharih-nya sebuah dilalah.

Berikut nasihat yang Allah Ta'ala firmankan,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ
[الحجرات:6]
"Hai, orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu."
(QS Al Hujurat: 6)

Di dalam ayat ini terdapat sebuah adab yang disyariatkan ditengah-tengah manusia di dalam bermuamalah satu sama lain, terutama dalam menukilkan sebuah kabar berita, dan sikap "tatsabut" di dalamnya adalah sebuah perkara yang urgen.

Berkata Al Hafizh Ibnu Katsir:
يقول الحافظ ابن كثير: "يَأْمُرُ تَعَالَى بِالتَّثَبُّتِ فِي خَبَرِ الْفَاسِقِ ليُحتَاطَ لَهُ؛ لِئَلَّا يُحْكَمَ بِقَوْلِهِ فَيَكُونَ -فِي نَفْسِ الْأَمْرِ-كَاذِبًا أَوْ مُخْطِئًا، فَيَكُونَ الْحَاكِمُ بِقَوْلِهِ قَدِ اقْتَفَى وَرَاءَهُ، وَقَدْ نَهَى اللَّهُ عَنِ اتِّبَاعِ سَبِيلِ الْمُفْسِدِينَ، وَمِنْ هَاهُنَا امْتَنَعَ طَوَائِفُ مِنَ الْعُلَمَاءِ مِنْ قَبُولِ رِوَايَةِ مَجْهُولِ الْحَالِ لِاحْتِمَالِ فِسْقِهِ فِي نَفْسِ الْأَمْرِ، وَقَبِلَهَا آخَرُونَ لِأَنَّا إِنَّمَا أُمِرْنَا بِالتَّثَبُّتِ عِنْدَ خَبَرِ الْفَاسِقِ، وَهَذَا لَيْسَ بِمُحَقَّقِ الْفِسْقِ لِأَنَّهُ مَجْهُولُ الْحَالِ"
"Allah Ta'ala memerintahkan (kaum mukmin) untuk memeriksa dengan teliti berita dari orang fasik dan hendaklah mereka bersikap hati-hati dalam menerimanya dan jangan menerimanya dengan begitu saja, yang akibatnya akan membalikkan kenyataan. Orang yang menerima dengan begitu saja berita darinya, berarti sama dengan mengikuti jejaknya. Sedangkan Allah Ta'ala telah melarang kaum mukmin mengikuti jalan orang-orang yang rusak.
Berangkat dari pengertian inilah ada sejumlah ulama yang melarang kita menerima berita (riwayat) dari orang yang tidak dikenal karena barangkali dia adalah orang yang fasik. Tetapi sebagian ulama lainnya mau menerimanya dengan alasan bahwa kami hanya diperintahkan untuk meneliti kebenaran berita orang fasik, sedangkan orang yang tidak dikenal (majhul) masih belum terbukti kefasikannya karena dia tidak diketahui keadaannya.

Demikian untaian nasihat yang semoga dapat memberikan manfaat. Wallahu Ta'ala A'lam.

Barakallahu fi kum.

Editor: Muhammad bin Yusuf
Sumber: Kiriman penulis

Comments

  • No Comment Yet
Please login first for post a comment
Please switch off your AdBlock and refresh this page :)