Suara Ahlus Sunnah Melawan Sekularisme

Suara Ahlus Sunnah wal Jama'ah melawan Sekularisme, Liberalisme, Plularisme, Murji'ah dan Khawarij

Wahai, "Anshar Daulah", Bersikaplembutlah!

Plsy Store Street Fight

Wahai Anshar Daulah Bersikaplembutlah

Wahai, "Anshar Daulah", Bersikaplembutlah!

Oleh Syaikh Abu Khabbab Al 'Iraqi hafizhahullah

Hadis sahih muttafaqun ‘alaih dari Abu Mas’ud Al Anshari bahwa seseorang mendatangi Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam lalu berkata, "Aku terlambat salat Shubuh karena polan (yaitu Mu’adz bin Jabal), ia memanjangkan shalat." Abu Mas’ud berkata, "Aku belum pernah melihat Nabi ‘alaihish shalatu was salam marah dalam memberikan nasihat, kecuali nasihat pada hari itu. Beliau bersabda, “Wahai, sahabat, sesungguhnya di antara kalian ada munaffirin (orang-orang yang membuat orang lari dari ajaran agama), siapa di antara kalian yang mengimami orang-orang, maka ringankanlah. Karena di antara mereka ada orang yang lemah, orang tua, dan yang memiliki keperluan.”"
Sebenarnya Mu’adz (semoga Allah mencurahkan rido-Nya kepadanya) menginginkan kebaikan kepada orang-orang, akan tetapi ia tidak memperhatikan kondisinya. Maka sebagian orang melarikan diri darinya sehingga nabi menasihati Mu’adz.

Semoga selawat dan salam senantiasa tercurahkan kepada sang guru yang pengasih ini.
Oleh karena itu, aku katakan kepada ansar Negara Islam.

Wahai, kebanggaan Negara.[1] Hai, orang yang sabar dalam membela Negara kalian, janganlah kalian menyerang orang-orang.

Wahai, orang yang Allah berikan hidayah kepada orang-orang sesat lagi bingung melalui pena-pena kalian.

Sesungguhnya kedudukan kalian dan keutamaan kalian tidak dipungkiri, kecuali oleh orang yang dengki. Akan tetapi dalam rangka menasihati kalian dan umat, aku katakan sesungguhnya sebagian dari kalian ada orang-orang munaffirin.

Wahai, orang-orang terhormat.

Sesungguhnya di antara kalian ada orang-orang yang telah menganggap dirinya telah menolong satu golongan. Maka orientasinya adalah merendahkan orang lain, mencela, memakinya. Belum lagi dengan pengafiran dan pemfasikan. Ia lupa bahwa Negara Islam adalah Negara Khilafah, negaranya seluruh kaum muslimin. Tujuan dari mendukungnya adalah mengajak orang-orang untuk berhijrah kepadanya dan memberikan kabar gembira akan proyek-proyek bagusnya. Bukan membuat mereka lari dengan sikap keras.

Sebagaimana perkataan ahlul 'ilmi, kelembutan adalah sikap dasar dan tidak berpindah kepada keras, kecuali darurat dan dengan porsi yang cocok sesuai dengan maslahatnya.

Sesungguhnya di antara sifat-sifat khawarij dan akhlaknya adalah bangga, mengkapling kebenaran hanya pada kelompoknya hingga mereka mengafirkan orang lain untuk menyenangkan mereka dengan menganggap diri mereka muslim dan yang lain kafir yang tidak memahami agama. Sikap ghurur ini menyelinap masuk pada diri mereka, seperti Abu Qatadah yang membatasi kepahaman hanya pada dirinya dan pengikutnya dan sebagian ansar Negara Islam yang menganggap telah mendukung Negara.

Kalian mendapati mereka membodoh-bodohi pendapat yang tidak sesuai dengan pendapat mereka.

Jika saja mereka menengok pada sirah Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam dan benar-benar mengikutinya, maka ia akan mendapati bagaimana Nabi menegur Ummul Mukminin Aisyah saat melaknat Yahudi.
“Wahai, Aisyah, bersikap lemah-lembutlah. Janganlah keras dan berkata keji,” tutur beliau.

Jika kita menengok perkataan-perkataan ulama rabbani, seperti Imam Ibnu Taimiyyah, Ibnul Qayyim, dan lainnya, maka ia akan mengetahui bahwa para ulama masih berbeda pendapat dalam vonis personal dan tidak mengharuskan karena itu (perbedaan) mengafirkan, memfasikkan dan membidahkan yang berbeda.

Ibnu Taimiyyah meng-udzur dan memberikan udzur ta’wil kepada yang berbaik sangka kepada Ibnu 'Arabi yang zindik, yang beliau anggap lebih kafir daripada Yahudi dan Nasrani. Sementara Imam As Suyuthi menulis kitab yang menetapkan bahwa Ibnu 'Arabi mukmin, sementara para Ahlul ‘Ilmi tidak mengeluarkan Imam As Suyuthi dari Islam. Ia akan berkata bahwa ini adalah pokok tauhid dan tidak ada ruang untuk berbeda. Jika ia meneliti lebih jauh, maka ia akan paham bahwa hukum takyin (vonis kafir personal), bukan termasuk ashlud din.

Oleh karena itu, ahlul 'ilmi, seperti Ibnu Taimiyyah membedakan antara takfir muthlaq (pengafiran terhadap perbuatan, perkataan dan keyakinan) dan takfir mu’ayyan (aplikasi pengafiran pada personal).

Ibnu Taimyyah berkata, "Ahlul Bid’ah dari kalangan khawarij, rafidhah, dan mu’tazilah menjadikan alasan perang itu karena kekafiran dan kefasikan." Beliau juga berkata, "Ahlul Bid’ah menjadikan kesalahan dan dosa sesuatu yang sama."

Siapa yang menganggap setiap yang menyelisihi Negara berdosa, maka dia menyerupai orang-orang sesat itu, sementara kami menganggap kesalahan bagi yang menyelisihi secara umum. Siapa yang menganggap setiap orang yang memerangi Negara adalah kafir tanpa perincian, maka ia telah menyerupai khawarij.

Saya menutup nasihat ini dengan mengingatkan kalian. Wahai, ansar. Orang yang dekat kedudukan dengan Nabi Muhammad shalallahu ’alaihi wa salam adalah yang paling baik akhlaknya. Seorang mukmin adalah bukan yang suka (sering) mencela, melaknat, dan berkata kotor.

Wal hamdulillahi Rabbil ‘alamin.

Catatan Kaki:
[1] Maksudnya Negara Islam

Penerjemah: Ustadz Abu Asybal Usamah
Editor: Muhammad bin Yusuf
Sumber: Just Share Knowledge

Comments

  • No Comment Yet
Please login first for post a comment
Please switch off your AdBlock and refresh this page :)